Tapsel || – Sedap membaca puisi yang dikirimkan seorang narasumber, sabtu (21/10/2023) yang mengatasnamakan “LJ 284″. Sesuai rilis yang diterima kru media ini, Narasumber tersebut meminta agar puisi yang dikirimkannya dapat diterbitkan di media ini. Langsung saja kita baca dan cermati puisi tersebut.
Alkisah di suatu tempat di titik GPS berbendera merah putih, terdapat suatu daerah yang memiliki pemimpin berbadan tambun dan berpendidikan.
Pemimpin ini merupakan pemimpin lanjutan dari awan yg pernah menaungi daerah tersebut.
Di awal masa kepemimpinan paduka tambun ini masih terasa nyamannya proses pembangunan yang di laksanakan dengan bijaksana, apalagi wilayah kekuasaaannya terdapat sumber kilauan dunia.
Namun seiring waktu beserta jumlah kebutuhan yang tergiring nafsu manusiawi, maka beberapa kebijakan sang paduka mulai diolesi oleh topeng kerakusan dan ketamakan.
Akibat hawa nafsu tersebut menyebabkan kegiatan yang harusnya menaikkan harkat dan martabat masyarakat yg dipimpinnya, malah telah terasa menyekat dan menyandera kemampuan para pelaksana kebijakan tersebut.
Terbukti dengan terukurnya niat-niat baik di awal kebijakan kemudian untuk memuluskan kebijakan yang di dasari hawa nafsu dan kepentingan itu berubah dengan istilah umum yang berujung adanya kebijakan diluar ketentuan ke kantong safari para pemangku kebijakan.
Setelah merasa terselimuti gaya playvictim, sang pemimpin ini merasa perlu red karpet dan mikrofon tambahan agar diakhir masa jabatannya dia tidak sendiri menikmati dinginnya suasana baru.
Dirinya kemudian memberi kesempatan kepada rumput yg bergoyang untuk menjadikan para angin mamiri ikut memikirkan rencana-rencana yang dapat di kategorikan bijaksana.
Namun kenyataannya kebijaksanaan tersebut terasa seperti biji salak yang keras namun licin.
Bermain didata dan system namun lupa dengan karma yang akan menyertai. Tindakan pangkas dan pungkas yang dilakukan pada jajarannya dengan mengesampingkan rasa nira manis yang menggoda, menjadi rasa tuak yg memabukkan.
Tunggu waktumu Ketua Ingat ada nasehat Batak yg mengatakan ”Martapuk bulung, Marbona sakkalan.
Dirimulah sakkalan itu”,
A. Nst












