Scroll untuk baca artikel
Berita

Ancaman Industri 4.0 Terhadap Ekologi

103
×

Ancaman Industri 4.0 Terhadap Ekologi

Sebarkan artikel ini

SUARAMASSA.CO.ID –Peradaban manusia berubah secara drastis seiring majunya ilmu pengetahuan. Pengetahuan tersebut menghantarkan manusia kepada banyaknya penemuan hingga akhirnya manusia banyak menciptakan alat-alat dan teknologi canggih. Teknologi ini pula yang membawa kemajuan serta perubahan dibidang industri.

Kemajuan-kemajuan teknologi yang dibawa oleh revolusi industri4.0 memang sangat pesat sehingga dapat mentransformasi peradaban manusia. Aktivitas sehari-hari terutama aktivitas produksi menjadi lebih cepat dan efisien. Lebih jauh lagi efektivitas dan efisiensi itu membuat out put yang dihasilkan menjadi lebih banyak dengan biaya yang kecil serta waktu yang relatif singkat. Pekerjaan yang tadinya berat menjadi lebih ringan, ditambah lagi dengan adanya integrasi beberapa bidang sekaligus membuat konektifitas semakin luas jangkauannya dan sistematis.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Terhitung selama satu dekade terakhir kemajuan teknologi dan industri, arus globalisasi serta perubahan iklim mempengaruhi hidup manusia di hampir segala bidang termasuk ekologi. Ketiga faktor itu menjadi faktor penentu geoplitik global saat ini (Friedman, 2016).

Alec Ross (Alec Ross, 2016) meyakini bahwa industri ke-4 ini akan melahirkan banyak inovasi yang kemudian inovasi tersebut akan menciptakan hal-hal yang menjanjikan. Tetapi ia juga mengatakan industri ini bisa memicu munculnya hal-hal yang membahayakan kesejahteraan orang banyak secara serius. Dapat disimpulkan jika ini diibaratkan sebuah tantangan bagi manusia untuk bisa menjadikan revolusi ini peluang atau ancaman.

Berikut akan dipaparkan mengenai dampak-dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh industri 4.0 dalam ranah ekologi:

1. Pengangguran Masal

Industri baru merubah peradaban sedemikian rupa. Peradaban-peradaban yang dirubah tidak hanya sebatas gaya hidup atau cara berkomunikasi saja tetapi juga merubah cara bersaing. Di era industri 4.0 ini, manusia tidak hanya bersaing dengan manusia lainya, tetapi juga kini persaingannya semakin kompleks yakni bersaing dengan robot dan atau komputer.

Sistem digital yang semakin canggih menghasilkan penemuan-penemuan robot yang semakin menyaingi manusia. Mulai dari kemampuannya yang semakin banyak hingga kualitas kecerdasan robot yang semakin tinggi. Hal tersebut tercipta karena topangan teknologi terapan 4.0 sendiri seperti artificial intellegence (kecerdasan buatan).

Artificial intelligence atau biasa disebut dengan AI adalah suatu bidang didalama ilmu komputer dimana dipelajari tentang bagaimana cara manusia berpikir, bertindak, mengetahui, memprediksi sesuatu hingga memahami sesuatu yang kemudian dibuat dan diterapkan kedalam sistem komputer (Budiharto & Suhartono, 2014). Akibatnya, pekerjaan-pekerjaan manusia dari mulai yang bersifat refetitif atau berulang (seperti mencetak barang yang sama dengan jumlah yang banyak) hingga pekerjaan analisis dapat digantikan oleh robot.

Bayangkan, peran dokter yang penuh analisis dalam mengartikan gejala penyakit pasien yang membutuhkan pemikiran analisis mendalam saja bisa digantikan oleh robot, bagaimana dengan pekerjaan kasar pabrik yang bisa diintegrasi mesin secara otomatis.

Disisi lain, peran manusia yang diganti oleh mesin atau robot membuat para pemodal atau pemilik industri merasa diuntungkan sebab pengeluaran proses produksi bisa semakin kecil. Biaya yang tadinya dipakai untuk menggaji banyak karyawan diganti dengan biaya mesin atau komputer yang bisa dipakai bertahun-tahun. Setiap bulannya perusahaan atau pemilik industri hanya perlu mengeluarkan biaya listrik dan perawatan mesin atau komputer saja. Selain itu, pekerjaan manusia atau proses produksi yang digantikan oleh robot membuat produksi semakin cepat. Jumlah produksi perharipun menjadi llebih meningkat.

Alasan-alasan diatas yang kemudian bisa mendorong para pemilik industri untuk lebih memilih menggunakan mesin atau robot ketimbang tenaga manusia.

Banyaknya peran atau pekerjaan yang dapat digantikan oleh robot, komputer atau mesin mengakibatkan banyak jenis pekerjaan yang hilang di masa depan.

Lembaga-lembaga penelitian terkemuka seperti Oxford, Global Institute dan Mckensie juga memprediksi 50 persen pekerjaan akan hilang dimasa depan.

Dilansir dari laman berita (n.n, 2018), Pembina Binalattas Kemnaker, Bambang Satrio Lelono mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan seperti staf akuntan, instruktur mesin, travel agen, pramusaji restoran cepat saji, bahkan hingga supir truk akan mulai tergerus perkembangan teknologi. Padahal, jumlah supir truk di Indonesia saja mencapai enam juta orang.

Satu jenis pekerjaan saja yang hilang bisa menimbulkan jutaan orang menganggur. Apalagi dengan prediksi 50% jenis pekerjaan yang ada di dunia akan hilang, bisa kita perkirakan berapa juta orang yang nantinya akan kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran akibat dari revolusi industri ini.

Robot atau mesin memang membantu meringankan pekerjaan manusia. Manusia tidak perlu berpeluh-peluh lagi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi, bila sampai mengganti peran dan pekerjaan manusia, sumber mata pencaharian pun bisa diambil alih mesin. Oleh karenanya ancaman pengangguran masal pun tidak dapat dihindari.

2. Ketidak Seimbangan Ekonomi

Ancaman lain dari revolusi industri 4.0 ini adalah ketidak seimbangan ekonomi. Para pakar yang tergabung dalam World Economic Forum (WEF) mengatakan bahwa industri ini melahirkan warna kapitalisme baru yang berbeda dari pendahulunya.

Warna ini menghasilkan angka ketimpangan ekonomi yang semakin tinggi yang pada akhirnya mengakibatkan ketidak seimbangan ekonomi (Rosidah, 2018).

Dampak ini sebenarnya masih merupakan kepanjangan dari efek pengangguran masal yang diakibatkan dari tenaga manusia yang diganti oleh robot.
Jika terus dibiarkan tanpa ada regulasi yang membatasi, ekonomi di masa depan hanya akan dikuasai oleh segelintir orang saja.

Orang-orang tersebut adalah para pemilik modal atau pengusaha sukses yang mampu membeli dan menggunakan mesin atau robot dalam proses produksi. Terlebih lagi kondisi sosial ekonomi kita yang semakin kapitalis, dimana penguasa ekonomi lebih mengejar laba serta kuantitas produksinya. Maka potensi keterpilihan mesin dibandingkan tenaga manusia akan lebih besar. Sedangkan masyarakat dengan status ekonomi menengah kebawah tanpa memiliki keahlian khusus akan semakin tergerus dan terhimpit ekonominya akibat dari tidak adanya sumber mata pencaharian.

Selama ini, ekonomi masih dikatakan stabil karena para pengusaha dan penguasa ekonomi masih banyak yang memperkerjakan manusia sebagai karyawannya. Pendapatan masyarakat masih terbilang cukup (dalam artian ada pemasukan) sehingga proses produksi dan konsumsi masih seimbang.

Masyarakat masih bisa mencukupi kebutuhan sekunder dan tersiernya dengan cukup. Konsumsi masyarakat pun masih stabil sehingga jumlah permintaan dan penawaran pun akan stabil. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi negara akan tumbuh dengan baik.
Tetapi jika penggantian tenaga manusia oleh mesin benar-benar banyak diterapkan oleh industri, ketersediaan atau lowongan pekerjaan untuk manusia pun semakin kecil.

Artinya pada setiap angkatan kerja angka pengangguran akan lebih banyak dibanding angka pekerja. Hanya akan ada segelintir orang saja yang memliki kemampuan ekonomi diatas standar. Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut platform effect. Bila terus dibiarkan tanpa ada regulasi yang mengatur dengan bijak, ekonomi negara ini akan mengarah menjadi semakin kapitalis jauh dari prinsip ekonomi Pancasila. Di samping itu, dalam teori ekonomi, platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi (Nugroho, 2019).

Istilah “yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin”-pun sangat cocok untuk menggambarkan keadaan tersebut. Akibatnya, ketimpangan ekonomi penduduk pun akan semakin tinggi. Itulah mengapa ekonomi kita akan berjalan dengan tidak seimbang.

3. Kerusakan Lingkungan

Perkembangan industri yang semakin pesat selalu diiringi dengan pembangunan yang semakin meningkat. Salah satu teori pembangunan atau modernisasi mengatakan pembangunan akan banyak mengorbankan lingkungan (Jemadu, 2013).

Tuntutan industri yang semakin meningkat serta teknologi yang semakin maju banyak membuat keruskan lingkungan akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Banyak teori yang mengatakan bahwa pembangunan adalah upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Padahal faktanya kesejahteraan itu hanya dinikmasti untuk sebagian orang saja.

Salah satu contohnya adalah pembangunan industri atau pabrik pada suatu wilayah. Pabrik tersebut memang benar bisa meningkatkan ekonomi, namun peningkatan ekonomi tersebut hanya bisa dirasakan oleh pemilik industri serta para pekerjanya saja. Sedangkan masyarakat didekat wilayah pabrik belum tentu mendapatkan keuntungan. Hal yang sudah pasti adalah menanggung efek polusi dan limbah yang dihasilkan oleh pabrik tersebut. Akibat lainnya adalah marjinalisasi penduduk setempat.
Sejak revolusi industri dicetuskan pada abad 17 telah banyak membawa perubahan yang menempatkan industri dan manusia sebagai perusak utama alam (Rosidah, 2018).

Teknologi dan peralatan yang semakin berkembang memerlukan energi yang semakin banyak pula. Alam sebagai sumber penyedia energi utama mau tidak mau harus menjadi korban demi memenuhi tuntutan energi yang dibutuhkan. Demi memenuhi kebutuhan tersebut banyaksumber daya alam yang dieksploitasi secara berlebihan. Ditambah lagi dengan efek produksi yang dihasilkan oleh industri seperti limbah dan polusi membuat lingkungan semakin rusak.

Perkembangan industri dan aktivitas pembangunan yang didorong dengan tingginya tuntutan ekonomi membawa manusia pada perilaku serakah yang menjadikan lingkungan melampui batas-batasnya. Planetary bounderies tidak lagi diperhatikan. Perilaku perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin tinggi serta pertumbuhan penduduk yang terus meningkat juga mendesak alam untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan daya dukung alam terbatas.

Persoalan-persoalan diatas kemudian mengakibatkan masalah-masalah lingkungan. Mulai dari pemanasan global, ketidak seimbangan ekosistem, perubahan iklim hingga menipisnya sumber daya alam terutama yang tidak dapat diperbaharui. Permasalahan lingkungan tersebut bagai sebuah efek domino menimbulkan permasalahan lainnya. Banjir, longsor, krisis air bersih, pencemaran udara hingga kelaparan adalah beberapa contoh efek domino rusaknya lingkungan akibat revolusi industri. Efek-efek tersebut berpotensi besar mengancam keselamatan dan kesejahteraan manusia.

Melihat dari keuntungan penerapan teknologi industri 4.0 memang benar revolusi ini bisa menjadi sebuah peluang ekonomi yang besar. Tetapi, pemaparan diatas menjabarkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 yang sangat kompleks sehingga berpotensi menjadi sebuah ancaman untuk keberlangsungan hidup manusia. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang bagi negara dan setiap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang dibawa industri ini. Karena kita tidak dapat mencegah perkembangan industri ini. Arus globalisasi juga lambat laun akan membawa pengaruh industri 4.0.

Ada beberapa saran untuk pemerintah dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi disrupsi yang terjadi. Pertama, menyediakan kurikulum pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan di era industri ini. Kedua, membuat kebijakan atau program (terutama kebijakan dalam segi pendidikan) yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *