BeritaPeristiwa

DARURAT KERACUNAN MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) DI MENGGALA! SATU SISWI SEMPAT KRITIS

628
×

DARURAT KERACUNAN MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) DI MENGGALA! SATU SISWI SEMPAT KRITIS

Sebarkan artikel ini

||suaramassa. co.id.|| Tulang bawang Lampung-​Kondisi panik dan mencekam sempat mewarnai ruang IGD RSUD Menggala, Tulang Bawang, pada Selasa (24/2/2026). Sebanyak 25 orang dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Menggala Tengah.

​Dari puluhan korban, satu siswi SMAN 3 Menggala bernama Siska Fitria (15) mengalami kondisi paling kritis. Tubuhnya merespons racun dengan sangat keras hingga ia mengalami kejang-kejang dan sempat kehilangan kesadaran. Beruntung, berkat penanganan cepat dari tim medis RSUD Menggala, masa kritis tersebut berhasil dilewati dan kondisi pasien mulai stabil.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

​Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Tulang Bawang, Fatoni, menjelaskan bahwa sebagian besar korban justru adalah adik atau keluarga dari murid yang membawa pulang menu MBG tersebut, khususnya lauk telur asin. Atas kejadian ini, Kadiskes menyatakan bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab penuh atas musibah yang terjadi.

​CATATAN KRITIS: NYAWA BUKAN MAINAN!
​Pernyataan “bertanggung jawab” dari Kepala Dinas Kesehatan memang patut dicatat dan di apresiasi. Namun, mari kita buka mata lebar-lebar dan bayangkan skenario terburuknya:
​Bagaimana jika insiden keracunan MBG ini sampai merenggut nyawa anak-anak kita? Apakah semudah itu seorang pejabat mengatakan “kami bertanggung jawab” di depan kamera?

​Nyawa seseorang—terlebih generasi penerus bangsa—bukanlah barang yang bisa diganti rugi dengan biaya pengobatan gratis dari pemerintah. Kalimat “bertanggung jawab” mungkin bisa menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, tapi tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa yang hilang akibat kelalaian!

​Program Makan Bergizi Gratis ini niatnya mulia, tapi jika pengawasannya lemah, program ini justru berubah menjadi ancaman mematikan di atas meja makan rakyat. Harus ada pengusutan tuntas! Siapa pihak yang menyediakan makanan ini? Bagaimana standar kebersihannya?

​Jangan tunggu sampai ada isak tangis keluarga yang kehilangan nyawa, baru semua pihak sibuk saling lempar kesalahan. Ini bukan sekadar “musibah”, ini peringatan keras akan lemahnya pengawasan standar keamanan pangan di daerah kita!

​Bagaimana menurut kalian? Apakah cukup selesai dengan kata “bertanggung jawab” saja? Suarakan pendapat kalian
SMM:(Apriyadi Abdullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *