Scroll untuk baca artikel
Uncategorized

Empat Malaikat Di Beranda Rumah*

67
×

Empat Malaikat Di Beranda Rumah*

Sebarkan artikel ini

*Empat Malaikat Di Beranda Rumah*

 

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Empat Malaikat senior itu sudah datang. Mereka langsung duduk di teras rumah, dalam sesaat mereka seperti langsung membicarakan sesuatu seperti hendak langsung mengambil keputusan yang harus mereka pastikan secara bersama. Aku pun termangu takjub menyambut mereka nyaris tanpa ucap. Kecuali hanya sapaan paling sederhana yang sudah sering kulafalkan di pesantren dulu : “Assalamu’alaikum warahnattullahi wabarakatuh”.

Mereka serempak menjawab, seperti koor dalam acara nyanyian di gereja yang sangat kompak dan sempurna. Sungguh aku terpesona, tanpa rasa takut dan gentar kutatap satu diantara wajah mereka yangg kuanggap paling senior. Tapi nyatanya sangat lembut dan menyejukkan.

Kukira, belum pernah aku menatap wajah satu makhluk terganteng atau bahkan tercantik didunia, ketika menatap wajahnya.

Paras mukanya begitu mengagumkan. Pandangan matanya pernah bersahabat. Senyumnya pun sedikit menyungging, seakan tak hendak menunjukkan sikap berlebih seperti yang acap di tampilkan manusia di kota.

Saat mereka berbincang-bincang — seakan-akan tengah untuk saling meyakinkan diantara yang satu dengan yang lain — aku jadi terknang pada almarhum Ayah, almarhumah Bunda, dua kakandaku yang yakin telah di sorga serta Uni tercantikku yang selalu sembunyikan rasa kasih dan sayangnya untukku.

Bahkan almarhum Pakcik dari pihak Ibuku yang selalu memberikan motivasi semangat hidup ini sesungguhnya penuh perjuangan. Berbeda dengan adik Pakcikku — yang kata banyak orang sangat mirif dengan wajahku — beliau langsung mengajak praktek misalnya ketika mengajak kekebun dengan grobak sapinya yang sangat setia.

Dari Pakcik terkecil inilah aku belajar tentang filsafat kehidupan. Mulai dari kesetiaan sapi penarik grobak kami yang pernah dihadang seekor macam di ditengah perjalan ke kebun yang relatif jauh dari kampung kami, sapi warisan kakekku itu terus mendengus-dengus sambil melepaskan dirinya dari kungkungan kekang grobak.

Dalam situasi seperti itu, Pakcikku sangat paham dengan cara mengulur tali kekangnya agar sali itu bisa kebih seleluasa mungkin, karena sapi itu hendak berputar-putar mengelilingi grobak yang kami berdua tumpangi, seakan-akan hendak mengatakan kepada harimau yang sedang menghadang perjalanan kami itu tidak boleh berbuat tidak senonoh dan segera memberi jalan bagi kami untuk meneruskan perjalan ke kebun.

Hingga sekarang, aku tak paham apakah itu suatu pengalaman spiritiual atau apa sebutan lainnya, sebab harimau itu seperti penuh kerelaan menyisih lalu menghilang ke dalam semak belukar hutan perawan yang sekarang sudah banyak dijarah orang.

Yang fantastik, sapi warisan Kakekku itu pun segera menghentikan dengusan kegarangangan, begitu sang harimau itu menghilang dari pandangan. Sapi kesayangan keluarga kami itu langsung kembali mengambil posisi untuk menarik grobak guna meneruskan perjalanan kami ke kebun.

Yang juga tak pernah aku paham, selama adegan menegang kan tadi itu, Pakcik selaku melakukan semacam komando kepada sapi tersayang kami itu, dengan bahasa ngeracau yang tak pernah aku paham artinya.

Bahkan, selama adegan yang menegangkan itu, aku tak digubris sedikitpun oleh Pancik, kecuali hanya selalu memposisikan diriku dibelakang dirinya.

Hari ini kukira, setelah peritiwa itu terjadi pada 62 tahun silam, aku menduga ini semua merupakan bagian dari serangkaian pengalaman spiritual yang perlu dan patut kurenungkan. Semua itu kukira telah membentuk keyakinan dan kebernaian diriku seperti mau ikut mencari solusi komplik Aceh pada tahun 1980-an yang berkepanjangan langsung. Seperti pengamalaman saat penerbangan bersama satu keluarga dengan pesawat sejenis Fokker yang sungguh tak bisa kelupakan sampai sekarang. Dalam penerbangan dengan pesawat yang tak lazim dan cukup renta itu, sungguh nyaliku menjadi ciut. Sehingga semua do’a para Nabi yang kuingat habis tuntas kubaca dalam hati selama penerbangan itu.

Tapi saat kutoleh keempat Malaikat yang duduk penuh santai di beranda rumah kontakku yang sangat sederhana ini, mereka sedekmikian menyatakan pamit penuh sopan dan santun sambil melambaikan tangan pertanda hendak pergi, sambil mengucapkan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saking takjub dan terpesonanya aku, tak pasti kuingat, apakah salam mereka itu pun sempat kubalas atau tidak. Sebab ada sejumlah pertnyaan — setidaknya konfirmasi — yang perlu aku sampaikan kepada mereka, agar semua dapat jadi terang berderang adanya.

 

Penulis : Jacop Ereste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *