Labuhan Batu/Indepth Interview/ (02/25) : Tim Suara Massa mengenal Dr.Sumitro sebagai dosen tetap di Universitas Labuhan Batu. Sosok beliau yang kalem, ramah dan hangat menjadikannya kami sahabat yang erat, ia tinggal di pemukiman Sigambal. Dikampus sendiri beliau mengampu mata kuliah manajemen pemasaran hingga bisnis dan inovasi. Ia mengamati banyak hal mengenai Labuhan Batu secara kompleks, dari sisi politik dipemilukada, UMKM, hingga ketahanan pangan.
Kami diberikan tugas oleh beliau untuk meneliti UMKM dengan cara tradisional, SWOT . Selama 6 bulan, ia berpesan mengenai UMKM “Penyerapan tenaga kerja oleh UMKM mencapai 96,99% – 97.22% dengan jumlah pelaku UMKM mencapai 62 juta atau sekitar 98% dari pelaku usahan nasional “ lanjutnya “UMKM adalah garda terdepan penopang pertumbuhan ekonomi nasional” imbuhnya. Ia berpendapat itu tak semestinya hanya sebuah slogan atau sesuatu yang dipolitisasi oleh sebuah insitusi. Ia juga meyakini bahwa mereka hanya khawatir akan semakin tingginya Tingkat pengangguran yang disebabkan oleh serangkaian efisiensi dan pemotongan biaya yang tidak ada habisnya disektor public dan bisnis. Ia juga mempertanyakan mereka hanya mencari penyelamatan dengan sektor yang tersisa di Labuhan Batu itu sendiri. Begitulah pandangan sang doktor.
Pada 4 februari 2024, tim diajak untuk melakukan survey tentang sosok kepemimpinan yang cocok bagi Labuhan Batu 2024-2029 paska Erik Astrada.Dari polling kecil yang ia lakukan terekam 6 suara, 4 suara menyatakan akademisi sudah saatnya mengambil alih pemerintahan, 1 suara menyatakan Eks.ASN dan 1 suara menyatakan profesi lainnya.Sang doktor begitu paham menyoroti UMKM dimasa pilkada pada saat itu.
Dikalangan mahasiswanya, ia memang dikenal sebagai peneliti dengan quotes menarik. Ia juga sosok yang giat menyampaikan penelitian Labuhan Batu yang masih rendah literasi hingga miskin inovasi.Ia berkata “Namun masih memiliki peluang utnuk diteliti ibarat hutan yang masih perawan, semoga kedepan lebih banyak tulisan ilmiah yang mewarnai berita di Labuhan Batu.” Ujarnya.
Labuhan Batu tak lepas pula dari keberadaan Selat Malaka secara geografis, namun ia menyentil Labuhan batu tak kunjung merasakan Lokasi strategis tersebut. Menurutnya, sepertiga perdagangan global dunia dan sekitar 70-80% dari seluruh minyak yang diimpor oleh Tiongkok dan Jepang, itu melewati Selat Malaka.Namun ia merasakan betul, tata Kelola yang tidak efektif, kurangnya kapasitas keamanan, lemahnya koordinasi regional dan marginalisasi ekonom dikalangan penduduk menjadikan Indonesia, khususnya Labuhan Batu seolah olah menjadi penduduk pembajak dan dipersepsikan sama permasalahannya dengan Somalia.
Selain sebagai peneliti yang menggaungkan Labuhan Batu dengan slogan “Bersama Labuhan Batu Maju 2024” ia memberikan homework bagi para pelaku UMKM untuk memeprtahankan kedaulatan pangan , baik itu teknologi pangan, perikanan, pertanian, hingga biodiversitas lainnya. Menurutnya ekonomi kerakyatan dan digitalisasi UMKM membuka akses pasar di pasar Labuhan Batu dari Sei Berombang hingga Kota Rantau Prapat. Investasi dan tata Kelola keuangan harus mendorong UMKM Labuhan batu naik kelas , serta infrastruktur seperti KAI yang membelah Rantau Prapat dan Aek nabara mampu membuka lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Ia berujar “Labuhan bilik juga salah satu Pelabuhan terpenting dan merupakan Pelabuhan Cultuurgebied dan komoditas impor berasal dari Kawasan Hindia Belanda, Eropa dan Amerika. Ia mengungkapkan Sejarah pangan di Labuhan batu tak lepas dari Sejarah pangan di Sumatera Timur ketika tahun 1764 para pedagang Tionghoa, kapal kapal dari batu Bara, AsahanRokan, dan Bilah kerap berlabuh di Bukit batu (dulu Labuhan Batu Namanya Bukit Batu).Hingga 2 agustus 1862, Elisha netscher meninggalkan Bengkalis ditemani dua pejabat Belanda dan Lima pejabat Siak untuk berkunjung ke panai, Bilah.Cerita cerita zaman Belanda itu menginspirasi semboyan “ika bina en pabolo” yang masih menginspirasi putra putri Labuhan Batu yang unggul diakademik.
Dari ketahanan pangan itu sendiri, ia percaya sektor perikanan memberikan dampak yang luar biasa bagi generasi saat ini . Gizi yang baik akan melahirkan generasi yang sehat. Perlu diketahui, Sei berombang merupakan kecamatan yang berkontribusi penuh pada perikanan di Sumatera Utara. Begitupula dengan Aek nabara dan Kota Pinang sebagai penghasil sawit dan karet lengkap dengan kokohnya pabrik kelapa sawit yang menghasilkan sabun, minyak goreng hingga sabun pks. Ia telah dibranding “sabun pks”.
Dalam investigasi ini, ia berujar pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, Perkebunan, kehutanan , perikanan , peternakan , perairan dan air . Baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.”Kuasai Pangan, Dunia ada Dalam genggaman.” (kredit foto : Doktor Sumitro disebelah kiri berada di Labuhan Bilik)












