BeritaBudayaPendidikanSosial & Budaya

Pesona Tugu Betuah SMPN 3 Kaur Angkat Warisan Budaya Besemah, Sekda: Kebudayaan Harus Masuk Dunia Pendidikan

68
×

Pesona Tugu Betuah SMPN 3 Kaur Angkat Warisan Budaya Besemah, Sekda: Kebudayaan Harus Masuk Dunia Pendidikan

Sebarkan artikel ini

KAUR,||Suaramassa,co,id||— SMP Negeri 3 Kaur menggelar pentas seni bertajuk “Pesona Tugu Betuah” di Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Kaur Utara, Kabupaten Kaur, Sabtu (17/10/2026). Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menginspirasi Generasi”, kegiatan ini menjadi upaya melestarikan warisan budaya daerah sekaligus menanamkan kecintaan terhadap tradisi kepada generasi muda.

Pentas seni tersebut merupakan bagian dari program bantuan pemerintah melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Bengkulu dalam rangka Hari Kebudayaan Tahun 2026.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Kegiatan ini dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Iskandar M. Siregar, S.Si., M.A.P.; jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kaur; Camat Kaur Utara; para kepala desa di wilayah Kecamatan Kaur Utara; Ketua BMA Kaur; serta tokoh masyarakat.

Mewakili Bupati Kaur Gusril Pausi, S.Sos., M.AP., Sekretaris Daerah Kabupaten Kaur, Dr. Nasrur Rahman, S.Hut., M.Si., hadir sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut. Kedatangannya disambut dengan tarian Sekapur Sirih, salah satu bentuk penyambutan tradisional yang mencerminkan penghormatan terhadap tamu.

Dalam sambutannya, Nasrur Rahman menegaskan pentingnya mengintegrasikan kebudayaan ke dalam dunia pendidikan agar generasi muda memahami identitas dan jati diri daerahnya.

“Bagaimana kebudayaan ini diintegrasikan ke dunia pendidikan, sehingga jati diri bisa ditunjukkan dari sini. Dengan banyaknya kebudayaan, ciri khas daerah dapat semakin kuat. Ini juga merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur yang telah mendirikan daerah ini. Oleh karena itu, kebudayaan harus masuk atau diintegrasikan ke dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga pentas seni tersebut dapat terlaksana dengan baik.

“Mewakili Bupati Kabupaten Kaur, saya mengucapkan terima kasih sehingga pentas seni ini bisa terlaksana dengan baik. Ini pertama kali dilaksanakan oleh Kabupaten Kaur, sehingga semangat kebudayaan harus terus ditumbuhkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Kaur sekaligus pembina Sanggar Seni Tugu Betuah, Harmili, S.Pd., M.M., mengaku bangga dan tersanjung atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk menerima bantuan fasilitasi kegiatan kebudayaan tahun 2026.

Menurut Harmili, nama Tugu Betuah diangkat dari sejarah perjuangan yang berkaitan dengan keberadaan tugu perjuangan di Kelurahan Simpang Tiga, wilayah Padang Guci. Nama tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan masyarakat setempat.

Melalui Sanggar Seni Tugu Betuah, pihak sekolah berupaya menjaga keberlangsungan seni dan tradisi lokal, termasuk sejumlah warisan budaya masyarakat Besemah yang ditampilkan dalam pentas tersebut.

Di antaranya adalah Meringit, Betadut, dan tradisi Melemang dalam pernikahan adat Besemah. Pementasan ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah serta identitas masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kaur, Lisarmawan, S.Kom., M.AP., turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sekolah, pelaku seni, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi menjaga kelestarian kebudayaan daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Iskandar M. Siregar, menjelaskan bahwa Hari Kebudayaan diperingati setiap 17 Oktober.

Ia menyebutkan, kegiatan serupa dilaksanakan secara serentak di sembilan kabupaten dan satu kota. Dari sejumlah kegiatan tersebut, ia memilih hadir langsung di Kabupaten Kaur.

“Kegiatan seperti ini dilaksanakan di sembilan kabupaten dan satu kota secara serentak. Namun, saya memilih Kabupaten Kaur untuk menghadiri kegiatan ini,” ungkap Iskandar.

Ia menambahkan, kebudayaan memiliki banyak fungsi strategis dalam mendorong kemajuan bangsa, termasuk memperkuat identitas masyarakat di Provinsi Bengkulu.

Menurutnya, salah satu tantangan pelestarian budaya saat ini adalah masih adanya anak-anak dan generasi muda yang menganggap kebudayaan tradisional sudah ketinggalan zaman. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai kegiatan pelestarian, termasuk melalui program Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb Indonesia).

“Masih banyak anak-anak yang tidak menyukai kebudayaan karena dianggap ketinggalan zaman. Karena itu, pemerintah pusat gencar melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” jelasnya.

Melalui pentas seni Pesona Tugu Betuah, SMP Negeri 3 Kaur diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda.

Dengan mengangkat tradisi lokal ke lingkungan pendidikan, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *