Artikel – Di sebuah desa kecil, dua sahabat bernama Dika dan Rani sedang duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah Rani. Mereka baru saja pulang sekolah dan membawa sebungkus besar cokelat yang diberikan oleh Pak Tono, pemilik warung di dekat sekolah. Wajah mereka penuh semangat, tapi yang lebih menarik adalah mereka tertawa terbahak-bahak, sampai perut mereka sakit.
“Aduh, Rani, aku nggak bisa berhenti ketawa kalau ingat kejadian tadi!” kata Dika sambil memegang perutnya.
“Iya, Dika! Itu benar-benar lucu! Coba kamu ceritakan lagi, biar aku ketawa lebih keras,” sahut Rani sambil terpingkal-pingkal.
Dika pun mulai bercerita. “Jadi, tadi kan, pas kita beli cokelat, Pak Tono bilang, ‘Hati-hati ya, jangan sampai cokelat ini meleleh di tangan.’ Tapi aku malah iseng, kan? Aku bilang, ‘Pak Tono, aku ini ahli cokelat. Aku tahu cara makan cokelat tanpa tangan.’”
Rani langsung terbahak. “Dan Pak Tono malah serius nanya, ‘Gimana caranya, Dik?’”
Dika melanjutkan dengan suara yang makin parau karena menahan tawa. “Aku bilang, ‘Aku bisa makan cokelat langsung dari mulut ke mulut!’ Terus aku ambil satu cokelat, dan aku gigit tanpa pakai tangan. Eh, tahu-tahu, aku keselek! Pak Tono panik dan langsung kasih aku air!”
Mendengar itu, Rani semakin keras tertawa. “Hahaha! Aku sampai nggak bisa napas waktu lihat wajah Pak Tono. Dia benar-benar khawatir, tapi lucu banget pas dia bilang, ‘Dik, kamu jangan sok ahli lagi, ya!’”
Mereka berdua tertawa begitu keras hingga nenek Rani keluar dari rumah sambil tersenyum. “Kalian ini kenapa, sih? Tertawa terus dari tadi.”
“Nek, tadi Dika keselek cokelat gara-gara sok pamer ke Pak Tono!” jawab Rani di sela tawanya.
Nenek ikut terkekeh. “Ah, kalian ini selalu ada-ada saja. Untung kalian masih bisa tertawa. Kalau tidak, pasti sudah dimarahi Pak Tono.”
Hari itu, Dika dan Rani terus bercerita dan tertawa. Mereka tahu, tawa adalah salah satu hal terindah yang bisa mereka bagi. Dan siapa sangka, kisah kecil di warung Pak Tono bisa membawa kebahagiaan yang begitu besar












