BIMA – Siapa yang tidak mengenal Man Arafah, seorang instruktur muda yang kaya akan pemikiran serta kedalaman cakrawala ilmu pengetahuan yang mempuni di setiap bidang menjadikannya sosok kader IMM yang mampu mengimbangi laju ilmu pengetahuan bersama zaman. Ia memang lahir di Bima, kota kecil yang kaya akan kearifan lokal, namun pemikirannya melambung dan bertengkar dengan Albert Einstein hingga Hawking.
Kedalaman samudra ilmu pengetahuan menjadikan dirinya layak untuk di sebut sebagai Buya Hamka Muda yang lahir dari tanah Bima. Corak pemikiran Tasawwuf Akhlaqy yang di imbangi oleh pengetahuan Sainstifik mempuni jelas menunjukkan ada satu kesempurnaan jiwa dan kecakapan intelektual yang bisa di andalkan oleh seorang pemimpin, lebih khusus di IMM.
Bagi setiap orang, mengenal Man Arafah bukan hanya mengenal siapa namanya, dimana alamat serta bagaimana latar belakang pendidikannya, tapi mengenalnya lebih jauh ternyata turut melibatkan corak pemikiran serta model kepemimpinannya.
Ia lahir dan besar di Bima, Sangiang. Memilih jalur pendidikan S1 di kampus IAIM Bima yang sekarang menjadi UM Bima. Pada saat itu, ia menjadi satu-satunya instruktur IMM yang berhasil menjadi lulusan terbaik pertama dari sekian banyak mahasiswa yang juga notabene sebegai kader IMM. Tentunya, dalam berbagai prestasi yang tidak mampu lagi di uraikan satu persatu, itu saja telah menjelaskan bagaimana dirinya di anggap cakap dan layak secara kapasitas intelektual.
Selayaknya ungkapan Raisul, Demisioner Ketua Komisariat IMM FH UM Bima, sosok Man Arafah menjadi sosok representatif perwakilan Bima yang layak di perjuangkan.
“Orang seperti Man Arafah hanya lahir sekali dalam 100 tahun, hingga sejauh ini belum pernah ada yang mampu mengimbangi dirinya, baik dalam kapasitas keilmuan serta kemampuan merangkul dalam memimpin”.
“saya telah memilih untuk menghibahkan kehidupan untuk mengarungi samudra ilmu pengetahuan, namun saya selalu berhenti pada kenyataan, Man Arafah menjadi akhir dari pencarian ilmu pengetahuan. Tidak berlebihan jika ungkapan ini saya sampaikan, karena berdasarkan beberapa pertimbangan dan verifikasi, ia memang layak untuk mendapatkan sanjungan serta pujian atas itu”.
“Walaupun dirinya tidak ingin di sebut dan tidak ingin menjadi buah perbincangan, namun dalam beberapa kesempatan ia harus saya sebutkan. Dan saya menjadi sangat meyakini bahwa ia mampu menjadi sosok representatif di DPD IMM NTB.”
Saat ini, dirinya menjabat sebagai Ketua Bidang Keilmuan dan Riset pengembangan Keilmuan di DPD IMM NTB. Tentu bukan hal yang mudah untuk menjadi pemimpin yang di amanahkan untuk mencerdaskan umat, lebih-lebih kader IMM. Segala tumpukan dan tanggung jawab ilmu pengetahuan akan bermuara padanya, karena dirinya yang memiliki tugas untuk menjawab keresahan dan kekeringan isi pikiran.
Bagi para kader IMM NTB “sulit bagi kita untuk menemukan sosok sepertinya, dirinya merupakan sosok representatig dan layak untuk di perjuangkan untuk menjadi calon tunggal DPD IMM NTB”. Pernyataan itu di sampaikan oleh Raisul, selaku Ketua Tim Kemenangan dan Konsolidasi Man Arafah saat dirinya mengirim pesan melalui Via WA kepada media ini.
Saat Media ini menghubungi Man Arafah dan menanykan bagaimana kesiapan dirinya dalam mengikuti kontestasi pemilihan DPD IMM NTB, ia mengatakan bahwa dirinya akan selalu siap ketika memang dirinya di butuhkan. “Tidak ada yang lebih penting selain dari memberikan yang terbaik untuk IMM.”
“Keberpihakan adik-adik terhadap saya menunjukkan bahwa ada keresahan yang mendalam atas kepemimpinan di DPD selama beberapa periode terakhir. Mereka memiliki satu kerinduan akan perubahan di DPD IMM.”
“memang, kami mengakui jika selama ini, DPD IMM NTB bukan tidak ingin memperhatikan mereka, namun akses yang tergolong cukup jauh menjadikan DPD dan PC IMM Bima seolah memiliki jarak dan sekat. Namun, saya mesti sampaikan bahwa itu bukan menjadi alasan yang kuat untuk memutuskan silaturahmi, apalagi lintas pemimpin di tingkat cabang dan daerah”.
“Kita ingin sama-sama menjadi orang yang berbuat banyak di IMM, tidak perduli apakah ada jarak yang begitu jauh antara Daerah dengan Pimpinan Cabang, seorang pemimpin di tuntut untuk melipat waktu dan melipat jarak agar tidak ada sekat antara Daerah dan Cabang”.













Luar biasa kanda, kapan lagi ada manusia hebat yang hanya lahir satu kali dalam 100 tahun☝️