KAUR, Suaramassa.co.id – Dana Desa Masria Baru, Kecamatan Semidang Gumay, Kabupaten Kaur, kembali menjadi sorotan. Kali ini, penyertaan modal BUMDes dipertanyakan warga karena besarnya anggaran yang disebut telah dikucurkan belum berbanding lurus dengan hasil maupun manfaat yang terlihat di tengah masyarakat.
Warga meminta Pemerintah Desa Masria Baru tidak hanya mencatat penyertaan modal dalam dokumen anggaran, tetapi juga membuka kepada publik berapa modal yang sudah disalurkan, digunakan untuk usaha apa, berapa aset yang terbentuk, omzet BUMDes, keuntungan yang diperoleh, dan berapa kontribusinya bagi desa.
“Terutama BUMDes, kami warga tentu bertanya-tanya sampai di mana perkembangannya. Penyertaan modal ada, tetapi hasilnya belum terlihat,” ujar warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Data yang diperoleh awak media mencantumkan angka penyertaan modal Rp486.447.000 pada 2021 serta Rp50 juta pada 2026. Namun, data tersebut masih perlu diverifikasi dengan APBDes, laporan realisasi anggaran, dokumen penyaluran modal, laporan keuangan BUMDes dan pertanggungjawaban Pemerintah Desa.
Jika angka tersebut benar dan terdapat penyertaan modal dalam beberapa tahun lainnya, maka muncul pertanyaan mendasar: seberapa besar total uang desa yang telah masuk ke BUMDes dan apa hasil konkretnya?
BUMDes Jangan Sekadar Ada di Atas Kertas
Tokoh media dan lembaga di Kabupaten Kaur, Liharman, menilai penyertaan modal menggunakan Dana Desa harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Dana Desa tujuannya untuk mensejahterakan warga. Kalau penyertaan modal BUMDes cukup besar, masyarakat berhak mengetahui penggunaannya dan hasilnya,” ujar Liharman.
Menurutnya, pemerintah desa harus mampu menunjukkan bukti penggunaan anggaran. Mulai dari dokumen penyertaan modal, kegiatan usaha, aset BUMDes hingga laporan keuntungan.
Apabila nantinya ditemukan perbedaan antara anggaran yang tercatat dengan realisasi di lapangan, menurut Liharman, persoalan tersebut patut ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksaan pihak berwenang.
“Kalau ada dugaan ketidaksesuaian, harus diperiksa berdasarkan dokumen dan bukti. Jangan sampai uang desa besar, tetapi manfaatnya tidak jelas,” tegasnya.
Kades Herdianto Belum Beri Penjelasan
Awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Desa Masria Baru, Herdianto, terkait penyertaan modal BUMDes tersebut.
Saat didatangi di Balai Desa, Herdianto tidak berada di tempat. Konfirmasi kemudian dilakukan melalui WhatsApp, namun hingga berita ini diterbitkan belum mendapat tanggapan.
Ketiadaan penjelasan dari pemerintah desa membuat pertanyaan warga belum terjawab.
Berapa total penyertaan modal BUMDes Masria Baru? Untuk usaha apa dana tersebut digunakan? Apa aset yang telah dihasilkan? Berapa keuntungan BUMDes? Dan berapa manfaat yang sudah kembali kepada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menunggu jawaban terbuka dari Pemerintah Desa Masria Baru.
Publik tidak hanya membutuhkan angka dalam laporan, tetapi juga bukti nyata di lapangan.(red)












